Monday, August 16, 2010

serapah kemuka muka penukik emosi.


Disini aku masih menyimpan dendam kepada
para pantek pantek yang menyimpang,
menghilir hulu mataku menjadi buram
sarat dendam.
kutunggu lagi dgn tangan menggenggam,
menyusun ludah serapah
kemuka muka penukik emosi.
Sedikit sugesti aku jd kesetanan merajut akar murka
berindukkan Dajjal.
Astaga!!!,Dunia ku kiamat dalam rujukan sendiri.
buat aku beriman seperti yg kau janjikan akan tentram.
balutan samsara roda kehidupan,aku tertipu.
bentak memberang untuk sadistik kesendirian.

Aku benci perempuan perempuan itu,
kalau semua kubenci gila sudah otakku.
Semua tak bisa dibendung dengan
sepasang pandangan mataku,
bahkan untuk menjeling 90 derjat pun tak bisa.
Apa lagi menangkap tindakan mu sepenuhnya. 
Disini aku tetap merangkap bersama gundah,
karena kau manusia aku selalu menjadi gundah.
Untuk semua perputaran otakku
yang berkelit kisah silam,

terlalu dekat untuk dikatakan punya kepercayaaan.
Akan sikap manusia manusia yang selalu
beradaptasi dengan keinginan.
Hasrat,nafsu,niat,kebutuhan,penekanan,penyelamatan
satu persatu menjorok keluar saat yang berketidakpastian.
Seolah hidungku telah melekat baunya
dengan bokong busukmu itu.

Perempuan perempuan itu aku serahkan saja lagi padamu,
ketakutanku terlahir dari ketidaksempurnaanku,
keegoanku yang memang aku sadar aku sangat parah.
Jika baik,aku malah berserah pada karma dan
takkan takut kematian hatimu.
Sekarang aku ingin tidur,
dengan senandung dharma penenang jiwa.
Entah apa yang terbesit,seolah berderai menjadi
abu atau debu yang sama saja merupakan partikel kecil. 
Do...do..do...not piano kutekan perlahan lahan untuk
mengiring tulisanku.
Datar memang tapi takkan terlalu buruk saat ada
penekanan bunyi dari orkestra tunggal dari
pita suara di kerongkonganku.

Disini aku tak merasa membaptismu sebagai pinjamanku
bahkan kepemilikan. 
Sekali lagi untuk semua rasa kenikmatan
yang akan dihujam mati,lagi dan lagi. 
Genangan darah bergenetik sama. 
Traumatik yang menjijikkan buatku.
Kali ini kumaki ,besok pasti ada lagi. 
Disini perempuan-perempuan itu aku serahkan lagi padamu. 
Aku masih punya dunia lain.

0 comments:

Post a Comment