Friday, July 2, 2010

menyapa kabar si nyonya mama.

hai nyonya apa kabar?,..
anak mu telah berambut panjang seperti yang engkau inginkan dahulu,
bisikan yang melerai suara gaduh jangkrik malam.
kulitku juga telah memutih seperti kaum bangsawanmu,
mari ajak aku acara minum teh jam 4 sore,
ditaman angrek hutan yang biru membeku.

suara tawa arak mendulang,
mari berdansa dengan tubuh ku yang telah menjadi betina,
hmmmmm......harumnya wewangian kemenyan dicampur melati hitam,sedikit ginseng dari hutan kalimantan yang liar.
bau parfum mu yang tak ada duanya.
kita adalah keluarga dewa,berbeda dunia dan adikku menjelma menjadi bidadari curam neraka.miris!!..












kapan kita akan bercerita bersama?,
apakah kabar kematianmu yang harus menghantarku menggenggam kabar terakhirmu,
kita tak memiliki waktu,dia akan terus ditempatnya.
Berputar layaknya mesin penggiling memipihkan habis yang dilewati.

Baiklah nyonya,seperti perkataan aku tak pernah diberi apa-apa,jadi jangan mengharapkan apa-apa.
Tetap saja tanah mu pernah kupijak dan berbekas,apalagi saat itu hujan deras.
Lecek,lembek.
Sekarang aku mengintip saja senyummu dari sudut ujung mataku.
Mmmmmmm.....
Nyonya, capcay dan ikan asin sambal ijo mu enak loh.

aahh nyonyaaa ini arti ibu untukmu,
Ibu adalah mama,dipanggil mami dan mama.
Terkubur dlm gravitasi,
dgn tanah pemakaman yg mewah dan tubuhmu mengawang diatas tanah,berjejak.
kadang menari dan berjalan.
Awet muda sprti madona,
hanya saja kisahmu cepat membusuk dan penuh titik panjang....
Tak ada lg cerita sampai engkau didalam tanah.Tambh 1 titik dan selesai bersama hujan.

sekian suratku nyonya jelita,
matamu sungguh menjerat memuiakan hati tarasa kecut.

0 comments:

Post a Comment