Thursday, July 15, 2010

Tuesday, July 6, 2010

06 july 10

Dan suatu saat aku akan lebih memilih duduk juga berjalan sendiri dalam jangka waktu yang lebih cepat.
semua lagu terdengar sama dalam ribuan nada.
lagu yang berubah menjadi melodi sekarat.
berbisik pelan dan begitu lemah tak ada daya.
akhir akhir ini adalah yang terburuk,

kabarku akan selalu mjd kabar angin keluar dari rongga pinus ditengah malam yg kelat,setelah tau kabarmu begitu merobek nadiku. Begitu erat terikat diujung leherku.
Dan setiap hari adalah hari doa utkmu,menyelip kecut menusuk ke gendang telinga Tuhan.
Mungkin Dia takkan pernah menghabiskan 1 poci teh tawar.
Bahkan waktu tak pernah kompromi dengannya.
Dengar ayah?.

 

semua awal lagu untuk kita terlantun begitu sejuk,sejuk dinginnya hari akan menjelang pagi.
aku terlapisi embun ddari tanganmu yang basah,
aku tau kau kedinginan bukan?,bahkan rasanya tak ingin mengajakku merasakan hal yang sama.
siapa bilang embun pagi itu suci dan tak bertanda tanya?.
sebenarnya dia adalah hawa ketidah tahuan,yang membuai begitu nyaman untuk dinikmati.
ia tak bersih seutuhnya,tak juga baru setiapnya.
berbaur dengan udara malam yang menyisakan bau setiap orang,benda dan segalanya.
udara yang mewakili setiap impian juga resah untuk di lenyapkan,dirajut kemnali menjadi oksigen yang segar.
menjelang pagi segera dia membingkai tanpa dosa untuk dipuji.
semua adalah tak ada siapa juga bukan siapa siapa.
hanya diletakkan dalam bola sampah yang pilihannya hanyalah baik dan buruk,antara surga dan neraka,antara kebahagiaan juga penderitaan.
tampak seperti biji kecil yang di guncang dalam sebuah wadah.
Cinta ku selalu biru,
(untuk kekasihku (***8) selalu penuh perdebatan diruang diimensi elektromagnetik yang tak saling bertatap muka,percakapan yang tak perlu,bahasa setan yang menjadi bahasa ibu.)
tanganku selalu beku,
menulis semua tentang ibu,masa lalu
dan pradeo nadi sendiri.

 

Sunday, July 4, 2010

4th july 10

Kalau kamu tau tentang rasanya dihantam waktu,mungkin kau akan seperti aku.
Mengejar,terburu buru seakan- akan hari esok pintu nyawaku tertutup rapat,atau mereka yg disekitarku lenyap.
Lenyap dan takkan kembali.
Lenyap walaupun logika mengacuhkannya,mengukur dari kesadaran juga kekuatan apapun tak kan bisa lagi.
Semuanya tertanam dibumi yg bulat,didalam tanah dan juga masih berpijak.

Aku selalu mengatakan,waktuku tidak banyak.
Sebenar benarnya,waktu diantara kita.
Aku yg akan pergi mendahului,atau aku yg akan kehilangan lagi.
Padahal tadi siang semuanya duduk manis di ilalang liar yg lembut,
tak diduga aku mendengarkan lagu nyanyian hampa,penghantar malam yang kelam.
Bahkan anggrek bulan biru terasa mengitari seluruh halaman.
Kujilat lagi langit,tetap tak bergeming.
Kucubit lagi pohon kaktus,tetap menusuk.
Akhirnya kucabut sendiri pembuluh darahku,darah merah segar menetes dibibirku.
Aku hidup,tetap hidup dan bernafas.
Jantungku tetap berdetak berirama dgn melodi neraka,
entah aku akan disana,atau memang dunia ini adalah dia?.

Aku yg tak pernah dimiliki,
aku yg tak pernah memiliki,
aku yg tak pernah memberi,
aku yg selalu diberi.
Masih menyemai luas yg telah lalu dan hanya berjejak kotor.
Seperti pelacur muda yg menghamba utk melupakan.
Dengan mengatas namakan beranjak terus beranjak dari jurang sempit yg dalam.

Friday, July 2, 2010

menyapa kabar si nyonya mama.

hai nyonya apa kabar?,..
anak mu telah berambut panjang seperti yang engkau inginkan dahulu,
bisikan yang melerai suara gaduh jangkrik malam.
kulitku juga telah memutih seperti kaum bangsawanmu,
mari ajak aku acara minum teh jam 4 sore,
ditaman angrek hutan yang biru membeku.

suara tawa arak mendulang,
mari berdansa dengan tubuh ku yang telah menjadi betina,
hmmmmm......harumnya wewangian kemenyan dicampur melati hitam,sedikit ginseng dari hutan kalimantan yang liar.
bau parfum mu yang tak ada duanya.
kita adalah keluarga dewa,berbeda dunia dan adikku menjelma menjadi bidadari curam neraka.miris!!..












kapan kita akan bercerita bersama?,
apakah kabar kematianmu yang harus menghantarku menggenggam kabar terakhirmu,
kita tak memiliki waktu,dia akan terus ditempatnya.
Berputar layaknya mesin penggiling memipihkan habis yang dilewati.

Baiklah nyonya,seperti perkataan aku tak pernah diberi apa-apa,jadi jangan mengharapkan apa-apa.
Tetap saja tanah mu pernah kupijak dan berbekas,apalagi saat itu hujan deras.
Lecek,lembek.
Sekarang aku mengintip saja senyummu dari sudut ujung mataku.
Mmmmmmm.....
Nyonya, capcay dan ikan asin sambal ijo mu enak loh.

aahh nyonyaaa ini arti ibu untukmu,
Ibu adalah mama,dipanggil mami dan mama.
Terkubur dlm gravitasi,
dgn tanah pemakaman yg mewah dan tubuhmu mengawang diatas tanah,berjejak.
kadang menari dan berjalan.
Awet muda sprti madona,
hanya saja kisahmu cepat membusuk dan penuh titik panjang....
Tak ada lg cerita sampai engkau didalam tanah.Tambh 1 titik dan selesai bersama hujan.

sekian suratku nyonya jelita,
matamu sungguh menjerat memuiakan hati tarasa kecut.