Tuesday, July 6, 2010

06 july 10

Dan suatu saat aku akan lebih memilih duduk juga berjalan sendiri dalam jangka waktu yang lebih cepat.
semua lagu terdengar sama dalam ribuan nada.
lagu yang berubah menjadi melodi sekarat.
berbisik pelan dan begitu lemah tak ada daya.
akhir akhir ini adalah yang terburuk,

kabarku akan selalu mjd kabar angin keluar dari rongga pinus ditengah malam yg kelat,setelah tau kabarmu begitu merobek nadiku. Begitu erat terikat diujung leherku.
Dan setiap hari adalah hari doa utkmu,menyelip kecut menusuk ke gendang telinga Tuhan.
Mungkin Dia takkan pernah menghabiskan 1 poci teh tawar.
Bahkan waktu tak pernah kompromi dengannya.
Dengar ayah?.

 

semua awal lagu untuk kita terlantun begitu sejuk,sejuk dinginnya hari akan menjelang pagi.
aku terlapisi embun ddari tanganmu yang basah,
aku tau kau kedinginan bukan?,bahkan rasanya tak ingin mengajakku merasakan hal yang sama.
siapa bilang embun pagi itu suci dan tak bertanda tanya?.
sebenarnya dia adalah hawa ketidah tahuan,yang membuai begitu nyaman untuk dinikmati.
ia tak bersih seutuhnya,tak juga baru setiapnya.
berbaur dengan udara malam yang menyisakan bau setiap orang,benda dan segalanya.
udara yang mewakili setiap impian juga resah untuk di lenyapkan,dirajut kemnali menjadi oksigen yang segar.
menjelang pagi segera dia membingkai tanpa dosa untuk dipuji.
semua adalah tak ada siapa juga bukan siapa siapa.
hanya diletakkan dalam bola sampah yang pilihannya hanyalah baik dan buruk,antara surga dan neraka,antara kebahagiaan juga penderitaan.
tampak seperti biji kecil yang di guncang dalam sebuah wadah.
Cinta ku selalu biru,
(untuk kekasihku (***8) selalu penuh perdebatan diruang diimensi elektromagnetik yang tak saling bertatap muka,percakapan yang tak perlu,bahasa setan yang menjadi bahasa ibu.)
tanganku selalu beku,
menulis semua tentang ibu,masa lalu
dan pradeo nadi sendiri.

 

0 comments:

Post a Comment