Sunday, June 13, 2010

Balada malam untuk ayah.

Dalam jeritan malam aku meraung mengingat namamu,
selalu,selalu lepas jauh dari mu.
Kenapa?,aku bertanya kepada tuhan
Kenapa tak pernah aku berdiri 5 menit sejengkal tubuhku didekatmu?.
Kenapa aku hanya berani menangis dibalik bantal mengedapkan suara,
Berteriak Aku cinta Ayahku,
Aku selalu bersalah unutkmu,
kelakuan ku penuh nista dan terkadang tanpa sengaja membawa namamu dalam kubangan kesalahan,dicerca juga dihina "dia anak siapa?,orang tua tak becus".
maafkan aku,(aku hanya melirih).

jika langit itu lorong yang panjang,
Besar menggema suaraku,
Aku cinta ayahku!!!,
berikan aku pelukan hangatmu,
Gantikan cinta ibuku yang membayang,
juga istrimu yang menghilang.
duka kita berdua, itu lelucon dari Tuhan.

Tanganku menggeletar merindukanmu,
susu panasku terasa asin,
aku ingat keretakan suaraku membuas saat menghantam nasehat didikmu,
Betapa pembangkangnya aku,
aku akan selalu menangis setelah itu,
Kenapa darah yang sama harus saling menolak,menggelombang menerpa hancurkan karang hati.
Aku marah suara yang tak pernah menyatu,
Aku benci kenaivan anak bapak yang menyebalkan ini.
Aku kecewa tak berani menangis didepanmu.

Percayalah takkan ada kaki Pelangi tersangkut dirumah kita,
Percayalah takkan ada Pagi cerah akan segera datang,
Percayalah gelombang takkan pernah tenang,
Percayalah leluhur di Beijing takkan mengenal kita,
Percayalah takkan pernah tabungan dibank penuh seperti Donald Trumph,
Percayalah Mama takkan pulang,
Percayalah Kota tua akan tinggal kenangan.
Uuntuk semua kenyataan yang kelam,
Percayalah akan aku yang selalu sayang,
Selalu membicarakan tentang sayang kepada papa ku Tatang,
dari anak gadisnya yang nakal dan Pembangkang.

(zhuo AnQi)

2 comments:

Yoyok Jogja said...

Sebagai seorang ayah dari tiga laki-laki jagoanku, kalimat indah mbak Kiki sungguh mewakili mereka .... kadang aku begitu menyepelekan segala kelebihanya ... makasih mbak Kiki telah banyak memberi inspirasi .....
Pak Yoyok (teman tuamu)

Rulirara said...

ky...aku hampir meneteskan mata, membaca tulisanmu, seperti juga aku yang selalu bersitegang dg ayah,(ahh hanya sebuah kisah lama)bahkan menantang mata ayah ketika beliau memukulku dengan gagang sapu ijuk, aduhh... sakit itu masih membekas,bukan sakit karena memar, tapi sakitnya segumpal hati yg membeku,makin membeku...

Post a Comment