Tuesday, March 30, 2010

self potrait




Friday, March 26, 2010

.......

Tuhan apa jenakamu untuk ku pagi ini tidak keterlaluan?..
aku hampir tidak lagi bisa menyapa matahari pagi dihari sabtu esok.
Apa aku yang tak bisa menjaga pemberianmu dengan baik sehingga kau murka?.

Aku merasa sangat benar-benar tidak baik sekarang.
Selama ini aku terus berpikir agar tugasku sebagai anak bisa cepat dilaksanakan.
karena aku tahu hari ini pasti akan datang juga.

apa begitu menyenangkan mengambil nyawa manusia yang benar-benar menginginkan hidup ini ,
tapi kau sepertinya memalingkan muka dan enggan melihat.

aku tak ingin semua ini berekhir begitu saja,
susah sekali jika harus mengulangnya dari awal,
ataupun takkan pernah lagi.

hidup di alam yang kami sebut dunia,
bukanlah hal yang mudah juga menyenangkan.

aahh aku malas berkata-kata lagi.

aku mencintaimu tuhan seperti ayahku ,
dan Aku ayah impianku saat ayah sejatiku tak sedang berada dekat dengan ku.
Aku harap aku masih bisa berbicara denganmu.
Biarkan air matamu menjadi tudung saat ku kering ,
Aku mencintaimu Ayah yang menjadi Tuhanku.





Monday, March 22, 2010

sekuel manusia. ( humsn sekuel)



Saat pagi menjelma dan  hari silih berganti,
aku menatap langit , sungguh ricuh hari ini.
tawamu , candamu , tangismu menghiasi alur cerita.

apa yang terjadi jika kau hidup tidak bercinta?
Apa yang akan kau alami jika semua penuh duka lara?.
Kelam , kalut , resah , gelisah hati bagai dihujam pedang bujana.
Kau menagis , meringis , hingga matamu membengkak leluasa,
dan mukamu seperti orang gila dengan rambut mengerbang layaknya seorang pertapa.

Apa harus menjadi seorang manusia sejati,
Tapi tak pernah ada arti yang pasti.
Kau membuatku bingung , aku hanya bengong,
tertegun menelan ludah atau memberontak tanda pasrah?

Berjenis manusia aku temui,
membentuk ribuan karakter dalam diri.
Badan membelok kekanan dan kekiri,
mencari-cari tempat dan penopang untuk berdiri.

Aku manusia yang hidup di bumi pertiwi,
terkekang norma tak berarti,
ketakutan selalu menghantui , persetan bibir indahmu (sucikah kamu?)
Terbungkus indah elok tubuhmu , dengan berbagai pernak-pernik
menandakan betapa sucinya penampilanmu.
aku yang hampir tak berbusana , kau cibir dengan hina.
tak lebih kutuk dan laknat mendera batinku.
Tapi tak cukup bisamu untuk meluluh lantahkan jiwaku yang terbusung gagah.

Keluh kesah mengeriang berirama dalam bola semesta.
aku yang miskin meminta harta,
dia yang kaya penuh problema.
Tak menyadari hakikat diri,
terus terbenam dalam nafsu duniawi.
Selalu mengaku jiwa yang sepi,
hidup kesendirian dalam timbunan manusia tertinggi.
cuiiih.........jangan biarkan ludahku menyentuh tanah ,
atau berkata terasa menindih hati hingga terluka.
Dunia takkan pernah membiarkan kita menyendiri , hingga kau mati atau bereinkarnasi.

Ringannya jiwa , kosongnya otak , butanya mata , pekaknya telinga dan tebalnya daki,
membungkus raga dan jiwa dalam kain kedustaan , mengerutkan nurani sendiri.

Kelam kalut otak manusia,
kerlap-kerlip  hati terbawa.
Ada yang perduli , meratap diri , berjuang untuk yang disimpati,
bahkan tak menoleh membentengi diri hingga melacur diri.


Mengatur hidup menjadi bebas,
tapi rasa takut tak pernah lepas.
merasa diri cukup perkasa dan kuat,
saat jatuh terhempas, coba kau lihat?
masihkah kau memuja sahabat yang kau panggil saudara sehati itu?
masihkah kau menulis sajak tentang arti hubungan kalian?
tentang siapa kamu?.
berdendang dengan arak saat sedih menerpa,
tapi itu kau jarah tak keluar dari keringatmu.

Jangan buatku tertawa,
aku menutup muka karena melihat masa lalu pribadi.
ingin menegur tapi kau mengindahkan ku pasti.
Cepat sajalah lelah kau menikmati harta,
menari lepas diatas meja.

Hingga aku menulis,
Jujur aku tak mengerti maksud dari tulisanku.
hahahha......











Monday, March 8, 2010

beda atau sama?



Aku berada dalam wilayah kumuh,
terjepit dua pagar emas,
tak cukup ruang untuk kaki ku menjulur,
tak cukup juga untuk tubuhku merebah.

Hanya bisa merapat , tangan kiri dan kanan.
berjalan memiringkan badan,
untuk keluardari celah itu.

Aku juga bagian darimu,
hanya saja peranku untuk menghiasi panggung ini agar lebih bervariasi.
Aku juga sama sepertimu,
tapi jika aku bingal mungkin aku hanya butuh sedikit,
sedikit kehangatan seperti yang kau dapatkan.

Sebenarnya aku sungguh ingin tersenyum padamu.
tapi sedikitpun kau enggan menoleh.
Andai kau tahu mirisnya hatiku,
kau akan genggam tanganku, merangkul pundakku
walau penuh korengan , debu , dan bau yang tak jauh beda dengan sampah di selokan.


Aku berada dalam wilayah kumuh,
terjepit nasib dan kekuatan.
air diselkan sudah seperti air mataku
bau yang tercium menjadi parfum tubuhku.

aku sungguh ingin tersenyum padamu.
berduka hatiku hanya ludahmu yang menyapa celah sempitku ini.