Friday, October 2, 2009

Pria di tahun 1928

Terpampang nama mu atas altar.
Terbaca tiga kata bahwa itu dirimu.
Masih tersisa serial drama kesukaan mu di tv,
tapi kau pergi tanpa menghabiskan biskuit disebelahmu.

Tertidur aku dikursimu, tanpa menghimpit lagi badan mu.
Berbicara aku di kamarmu, tanpa lagi balasan dari mu.
Terpakai aku sumpitmu, tanpa harus menunggu mu selesai mengunyah.
Terbangun aku dari tidur malam, tanpa kamu memanggil ku.

Tak pernah ku tapaki kaki ku di rumah Tuhan.
Tak pernah lagi ku jatuhkan lutut ku dilantai untuk meminta kepada-Nya.
Bukan benci diri-Nya,
hanya sedikit kekesalan yang tak tau harus apa.

Tak bisa lagi kulihat diri mu jika mata ingin menatap.
Tak bisa lagi bermain dengan mu jika diri ingin bergerak.

Tak ingin ku ingat,kau menangis untuk pertama kalinya kulihat.
Tak ingin ku ingat,kau menyebut namaku dimalam sebelum kau pergi.
Tak ingin ku ingat,cara mu meninggalkan aku tepat dihadapan mu.

Aku mencoba meraba jiwamu sampai sekarang.
Aku menunggu kedatanganmu di depan pintu sampai sekarang.
Aku tetap berdiri dirumah mu,bukan di batu yang ada nama mu.
Aku marah kau selalu tak datang,tapi yang ada aku marah hingga menangis.
Aku tak malu jika dengan menjerit kau akan datang.

Aku ingin kau datang.
Aku marah jika kau tak datang.
Aku ingin kau datang.
Aku akan menunggu hingga kau datang.

(1928-2008)

3 comments:

bondel said...

... terbaik yang pernah gw baca..
...salut salut....salut..!!!

bondel_dog3@ymail.com said...

bikin tulisan ttg gw donk hehehe . put kan ahli otobiografi.hehehe.

bang FIKO said...

Keep blogging Gurl...

Post a Comment